the Journey to Kolaka
Beberapa waktu yang lalu tepatnya 30 Mei - 2 Juni 2011, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kolaka, sebuah kota kecil berjarak 4 jam perjalanan mobil dari Kendari. Tentunya dong, bukan untuk jalan-jalan, tetapi dalam rangka tugas kantor.
Untuk pertama kalinya juga pergi sama teman sebaya, maksudnya bukan ama pejabat geto, hehe..jadi ya asik deh..apalagi ternyata ku pergi dengan teh Yuyu, sesama dbcner tea..hohoho..
Pergi di tanggal-tanggal menjelang tupo kayak gitu, waduh pastinya deg-degan. Palagi inget banget kata sesepuh, 2 hari tupo final kita kudu standby depan PC. Walau udah bawa laptop, tetep aja deg-degan dengan kondisi sinyal..
Dan ternyata betul sodara, sinyal Indosat di sana duh,,bener2 bikin kwatir. Eh, bahkan bukan indosat aja, teh Yuyu yang pake XL juga mengalami hal yang sama, meskipun gak-gak ngenes amat kayak saya. heuheu...
Ups cukup soal tupo akh..hehe..ini mah pan mau cerita soal journey-nya kan ya..hihi..
Perjalanan ke Kolaka adalah dalam rangka inspeksi sarana distribusi pangan di daerah sana. Untuk mencapai Kolaka, kami menempuh perjalanan udara menuju Kendari. Kami naik pesawat Garuda GA604 sekitar pukul 7 pagi, ternyata harus transit di Makassar. Di Makassar kami transit selama 30 menit dan melanjutkan terbang ke Kendari. Perjalanan Jakarta-Makassar kurang lebih 2 jam-an dan menuju Kendari sekitar 45 menit-an.
Alhamdulillah sampai di Kendari dengan selamat. Meskipun..ohya..penerbangan Jakarta-Makassar saya mengalami sakit telinga kanan yang sepertinya disebabkan perubahan tekanan udara. Aduh..aduh..sampai kelimpungan cari sesuatu buat dimakan dan menahan rasa sakit. Untungnya (masih untung..hehe)..tak lama kemudian pesawat mendarat di Makassar.
Ohya, soal sakit telinga ini lagi2 saya alami di perjalanan Makassar - Jakarta pada saat pulangnya. Dan alhamdulillah-nya lagi2 menjelang udah mau sampai di Jakarta. Tentu juga alhamdulillah lagi, saya udah antisipasi dengan menyediakan beberapa biji permen di tas saya. Soal penyebab sakit ini dan cara mencegahnya, sepertinya saya harus cari nih informasinya..;((
Sampai Kendari, kami dijemput petugas Balai POM setempat yaitu Ibu Odi dan Pak Muis. Bu Odi pertama ketemunya kesannya galak, tapi ternyata oh ternyata,,beliau ini baik dan emang orangnya blak-blakan. Tapi justru hal itu yang bikin kita-kita jadi cepet akrab sama beliau.
Singkat cerita, kami pun bertolak ke Kolaka hari itu juga pukul 2 siang. Bersama-sama dengan Bu Odi, Bu Anna dan Pak Muis. Ya iyalah yaa..mau tersesat, pigi2 sendiri ke daerah tak dikenal..xoxoxo..
Waduww..perjalanan ke Kolaka jauh sangadd..pegal-pegal pantat dibuatnya. Medannya berliku, untungnya jalanan udah halus..jadi perjalanan sangat lancar. Di tepi kiri jalan jurang sepanjang jalan, sedangkan di kanan jalan adalah hutan. Oh...rupanya Kolaka ini adalah kota pegunungan, sedangkan Kendari adalah kota pantai.
Sampai di Kolaka, hari sudah gelap dan waktu menunjukkan pukul 6 sore. Alhamdulillah dapat hotel bernama hotel Pratama. Lucunya ni hotel berasa kayak kamar kosan gitu, soalnya gak ada telepon operator dan malam-malam airnya mati. Uhuk. Agak-agak sebel juga seh gara-gara gak ada telepon, kudu bolak-balik nyambangin resepsionis buat nyalain air..hehe..Tapi overall, kamar hotelnya cukup nyaman, lega dan luas.
Kami berada di Kolaka selama 2 hari dan pulang ke Kendari pada siang hari tanggal 1, sehingga sore harinya kami sudah berada di Kendari. Cari hotel untuk menginap semalam lagi karena back to Jakarta tanggal 2-nya.
So tanggal 1 sore sampai malam itu kami sempatkan untuk berkunjung ke pantai Kendari dan nongkrong-nongkrong di sana sampai pukul 9-an.
ohya soal makanan di Kendari, ada yang istimewa. Ketika makan, kami diajak ke Restorant Wong Jowo (hoho..yang punya wong jowo ngkali,,ya..). Di meja makan ada seperangkat (jiaah..) bumbu dapur mejeng di sana, yaitu bawang merah, cabe rawit dan tomat). Bingunglah kita. Ternyata oh ternyata, itu digunakan untuk tambahan sambal sesuai dengan selera kita. Jadi disitulah kita kupas-kupas bawang merah, dan iris-iris cabe dan tomat dan disatukan dengan sambal yang tersedia...rasanya sedaaappp niaaann..:D..segerrr..ohya satu lagii..kalau lalap di Jakarta disajikan mentah, nah kalau di Kendari, lalapnya direbus dulu. Jadilah kacang panjang rebus dan kol rebus. Satu lagi, tempenya juga gak digoreng, tapi dikukus. Benar2 menghindari kolesterol tinggi dan mencegah kontaminasi E.Coli..hehe..
Begitulah sedikit cerita pengalaman ke Kendari dan Kolaka. Maaf ya gak terlalu detail..soalnya dah agak-agak lupa gara2 kelamaan gak diposting2..hehe..

Untuk pertama kalinya juga pergi sama teman sebaya, maksudnya bukan ama pejabat geto, hehe..jadi ya asik deh..apalagi ternyata ku pergi dengan teh Yuyu, sesama dbcner tea..hohoho..
Pergi di tanggal-tanggal menjelang tupo kayak gitu, waduh pastinya deg-degan. Palagi inget banget kata sesepuh, 2 hari tupo final kita kudu standby depan PC. Walau udah bawa laptop, tetep aja deg-degan dengan kondisi sinyal..
Dan ternyata betul sodara, sinyal Indosat di sana duh,,bener2 bikin kwatir. Eh, bahkan bukan indosat aja, teh Yuyu yang pake XL juga mengalami hal yang sama, meskipun gak-gak ngenes amat kayak saya. heuheu...
Ups cukup soal tupo akh..hehe..ini mah pan mau cerita soal journey-nya kan ya..hihi..
Perjalanan ke Kolaka adalah dalam rangka inspeksi sarana distribusi pangan di daerah sana. Untuk mencapai Kolaka, kami menempuh perjalanan udara menuju Kendari. Kami naik pesawat Garuda GA604 sekitar pukul 7 pagi, ternyata harus transit di Makassar. Di Makassar kami transit selama 30 menit dan melanjutkan terbang ke Kendari. Perjalanan Jakarta-Makassar kurang lebih 2 jam-an dan menuju Kendari sekitar 45 menit-an.
Alhamdulillah sampai di Kendari dengan selamat. Meskipun..ohya..penerbangan Jakarta-Makassar saya mengalami sakit telinga kanan yang sepertinya disebabkan perubahan tekanan udara. Aduh..aduh..sampai kelimpungan cari sesuatu buat dimakan dan menahan rasa sakit. Untungnya (masih untung..hehe)..tak lama kemudian pesawat mendarat di Makassar.
Ohya, soal sakit telinga ini lagi2 saya alami di perjalanan Makassar - Jakarta pada saat pulangnya. Dan alhamdulillah-nya lagi2 menjelang udah mau sampai di Jakarta. Tentu juga alhamdulillah lagi, saya udah antisipasi dengan menyediakan beberapa biji permen di tas saya. Soal penyebab sakit ini dan cara mencegahnya, sepertinya saya harus cari nih informasinya..;((
Sampai Kendari, kami dijemput petugas Balai POM setempat yaitu Ibu Odi dan Pak Muis. Bu Odi pertama ketemunya kesannya galak, tapi ternyata oh ternyata,,beliau ini baik dan emang orangnya blak-blakan. Tapi justru hal itu yang bikin kita-kita jadi cepet akrab sama beliau.
Singkat cerita, kami pun bertolak ke Kolaka hari itu juga pukul 2 siang. Bersama-sama dengan Bu Odi, Bu Anna dan Pak Muis. Ya iyalah yaa..mau tersesat, pigi2 sendiri ke daerah tak dikenal..xoxoxo..
Waduww..perjalanan ke Kolaka jauh sangadd..pegal-pegal pantat dibuatnya. Medannya berliku, untungnya jalanan udah halus..jadi perjalanan sangat lancar. Di tepi kiri jalan jurang sepanjang jalan, sedangkan di kanan jalan adalah hutan. Oh...rupanya Kolaka ini adalah kota pegunungan, sedangkan Kendari adalah kota pantai.
Sampai di Kolaka, hari sudah gelap dan waktu menunjukkan pukul 6 sore. Alhamdulillah dapat hotel bernama hotel Pratama. Lucunya ni hotel berasa kayak kamar kosan gitu, soalnya gak ada telepon operator dan malam-malam airnya mati. Uhuk. Agak-agak sebel juga seh gara-gara gak ada telepon, kudu bolak-balik nyambangin resepsionis buat nyalain air..hehe..Tapi overall, kamar hotelnya cukup nyaman, lega dan luas.
Kami berada di Kolaka selama 2 hari dan pulang ke Kendari pada siang hari tanggal 1, sehingga sore harinya kami sudah berada di Kendari. Cari hotel untuk menginap semalam lagi karena back to Jakarta tanggal 2-nya.
So tanggal 1 sore sampai malam itu kami sempatkan untuk berkunjung ke pantai Kendari dan nongkrong-nongkrong di sana sampai pukul 9-an.
ohya soal makanan di Kendari, ada yang istimewa. Ketika makan, kami diajak ke Restorant Wong Jowo (hoho..yang punya wong jowo ngkali,,ya..). Di meja makan ada seperangkat (jiaah..) bumbu dapur mejeng di sana, yaitu bawang merah, cabe rawit dan tomat). Bingunglah kita. Ternyata oh ternyata, itu digunakan untuk tambahan sambal sesuai dengan selera kita. Jadi disitulah kita kupas-kupas bawang merah, dan iris-iris cabe dan tomat dan disatukan dengan sambal yang tersedia...rasanya sedaaappp niaaann..:D..segerrr..ohya satu lagii..kalau lalap di Jakarta disajikan mentah, nah kalau di Kendari, lalapnya direbus dulu. Jadilah kacang panjang rebus dan kol rebus. Satu lagi, tempenya juga gak digoreng, tapi dikukus. Benar2 menghindari kolesterol tinggi dan mencegah kontaminasi E.Coli..hehe..
Begitulah sedikit cerita pengalaman ke Kendari dan Kolaka. Maaf ya gak terlalu detail..soalnya dah agak-agak lupa gara2 kelamaan gak diposting2..hehe..

Komentar
Posting Komentar