Curhat Seorang Nenek


"Kalau gak inget cucu, udah dari dulu mau pulang kampung. Tapi karena kasihan cucu, jadi aja dikuat-kuatin." curhat seorang nenek pada suatu kesempatan.

Lalu mengalirlah curhat berikutnya tentang menantu perempuannya.

"Dia mah udah nganggep nenek kayak pembantunya aja. Kalau negor soal kerjaan, udah kayak ke pembantunya aja."

"Gak ada perasaannya, masih mending mantu nenek yg satunya. Meskipun orang gak punya, tapi ngertian orangnya. Kalau keluar rumah, suka nawarin mau dibeliin apa. Ini mah boro-boro."

Nenek itu menghela napasnya. Tatapannya sayu tak bersemangat.

"Nenek jadi kurus begini, bukannya kurang makan. Tapi karena tiap hari makan ati." cetusnya lagi.

"Nek, ya bilang atuh ke anak Nenek. Biar dia yang bilangin mantu nenek." Kami berusaha meredam gundahnya.

"Ah, males. Dia mah sama aja orangnya."

Nah lho.

Siapa yang gak ikut sedih mendengarkan curhat seorang nenek seperti itu.

Dia yang sudah mengandung anaknya, membesarkannya hingga kemudian anak laki-lakinya menikah dan punya anak. Kemudian mengalah tinggal di rumah anaknya itu karena tidak tega cucunya diasuh pembantu.

Bertahun-tahun si nenek tinggal di rumah anaknya. Mengurus rumah dan cucu dari sejak bayi hingga kini si cucu sudah jadi anak gadis.

Jika dulu tak pernah keluar keluhan seperti itu, mengapa kini bermunculan satu per satu?

Dari sisi si nenek, kami sangat paham akan jeritan jiwanya. Betapa jiwa yang makin menua akan makin sensitif dan menjadi lebih perasa. Hal-hal yang dulu mungkin dianggapnya biasa saja, kini jadi terasa berbeda.

Jika dulu dia tak pernah menuntut minta ini itu, karena dia mengerti dan memahami  anaknya yang baru mulai merintis rumah tangganya.

Namun jangan salahkan si nenek jika kini dia mulai sensitif karena dilihatnya perekonomian anaknya mulai berada. Jangan salahkan si nenek yang mulai tak nyaman karena merasa tak dianggap. Mulai merasa tak diperlakukan sebagaimana seharusnya seorang ibu dan mertua.

Lebih dari soal materi, jiwa si nenek sangat butuh kasih sayang. Dia sangat membutuhkan perhatian. Dia ingin diajak ngobrol. Dia ingin disapa mesra. Dia ingin diajak bercengkerama.

Bukan cuma disapa seadanya sebelum dan sepulang kerja. Apalagi ditegur dengan kata-kata yang membuat hatinya terluka. Wajar saja jika si nenek bilang ditegor kayak pembantu.

Kau boleh bilang si nenek lebay, tapi tidak begitu kenyataannya bagi orang-orang yang makin menua usianya.

Bukan soal minta uang berjuta-juta,
Bukan soal minta jatah baju sebulan sekali,
Bukan soal minta rekreasi ke sana kemari

Tapi cukuplah dengan sebungkus makanan penanda cinta,
Pelukan dan sapa lembut menembus relung hatinya,
Mungkin sesekali pijitlah lengan dan kaki tuanya yang telah lelah seharian menjaga rumah.

Tidak, dia tidak minta gaji bulanan seperti para pembantu itu.
Dia cuma minta perhatian untuk menghangatkan hatinya yang makin kesepian.
Dia yang telah rela memberikan seluruh hidupnya untuk kehidupan anak cucunya.

Jika ada sedikit waktu, bolehlah berpikir sejenak.
Mungkin saja ada ide untuk mencari pembantu mengurus rumah.
Cukuplah sudah si nenek berlelah-lelah.
Sudah waktunya mereka menikmati hari tua dengan bahagia.
Sesekali menengok cucu, dan tak perlu terikat dengannya.
Bisa bersosialisasi dan tetap eksis dengan  teman sebaya.
Bisa punya banyak waktu untuk mengaji mencari bekal dunia setelah dunia.

Semoga nenek di atas bisa segera mencurahkan isi hatinya pada anak dan menantunya sehingga tak perlu lagi ada derita di hari-harinya menjalani masa tua.

Aamiin ya robbal'alamiin...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Menjawab Pertanyaan Balita

Beras Sebagai Pengering Handphone

Stop Bohong Saat Meninggalkan Anak