Menyiasati Tangis Si Kecil di Pagi Hari
Bunda, udahkah bunda mengalami keadaan “tangis di pagi hari”?
Saat kita harus meninggalkan anak untuk beraktivitas di kantor, anak dengan berbagai macam tingkah dan alasan gak mau lepas dari kita. Awal-awal emang pengen rasanya ikut nangis karena gak tega ninggalin anak dalam keadaan kayak gitu, tapi kalo gak ditega-tegain ya gimana dong dengan kerjaan kita?
Hmmm..keadaan yang dilematis ya bunda? Tapi jangan kuatir ya bunda, keadaan itu bisa kok diperbaiki. Bersumber dari Tabloid Nakita, berikut saya rangkumkan buat para bunda semua…^_^
1. Beri tahu sejujurnya
Perhatikan deh bunda, betapa si kecil kini sudah mulai bisa memahami apa yang kita sampaikan. Jadi, katakan aja dengan jujur bahwa bunda harus berangkat kerja. Agar si kecil gak harap-harap cemas, sampaikan juga bahwa di sore hari bunda sudah akan berada di rumah lagi dan kembali bermain dengannya.
2. Lakukan ritual positif
Ritual positif di pagi hari bisa bunda lakukan sebelum berangkat dengan meluangkan waktu sekitar 10-15 menit sudah cukup, untuk bermain-main dengan anak, entah membacakan buku, bercerita, atau hal lain yang menyenangkan. Dengan demikian, anak bisa bersenang-senang dulu dengan orang yang disayanginya.
3. Buat aktivitas
Selanjutnya mintalah pada pengasuh si kecil agar melanjutkan aktivitas menyenangkan tadi atau bisa juga membuat sebuah aktivitas lain yang tak kalah menyenangkan. Memang, itu tak membuat anak segera berhenti menangis, tapi setidaknya setelah itu, fokusnya akan teralihkan dan kembali tenang.
4. Berpamitan
Jangan lupa untuk berpamitan. Lambaikan tangan kepada si kecil. Sebaliknya, ajari si kecil untuk melambaikan tangannya kepada Anda. Ucapkan kata-kata perpisahan. Ulangi hal itu setiap hari. Anak juga bisa diajak mengantarkan orangtua hingga ke garasi atau pintu rumah.
5. Ajak bermain di luar
Jika anak masih menangis, pergi bersama keluar rumah bisa menjadi solusi. Bunda, pengasuh dan si kecil bisa berangkat bersama. Setelah itu, si kecil bisa bermain di lapangan, taman, atau tempat bermain di sekitar rumah. Cara ini cukup efektif meredakan kerewelan anak.
6. Monitor perilaku pengasuh
Semua cara sudah dilakukan, tapi si kecil tetap tak mau ibunya lepas. Jika ini terjadi, mungkin ulah buruk pengasuh yang jadi penyebab. Boleh jadi, anak tak mau ditinggal karena merasa tidak aman akibat sering dimarahi, dikekang aktivitasnya karena overprotektif, atau si pengasuh bukan orang yang asyik untuk menemani bermain.
7. Ajarkan sosialisasi
Agar anak rela berpisah sementara dengan ibu, sejak awal sebaiknya berikan kesempatan mengasuh anak kepada ayah, orang di rumah, atau nenek dan kakek yang dapat menjadi figur terdekat si kecil. Ayah, banyaklah terlibat dalam pengasuhan anak. Lewat cara itu, anak menganggap lingkungannya sangat aman dan menyenangkan.
8. Penuhi kebutuhan anak
Penuhi selalu kebutuhan anak dengan tepat. Tidak kurang, tidak lebih tetapi proporsional. Lakukan permainan yang menyenangkan bersamanya, makan, berisitirahat, berdoa, serta kebutuhan-kebutuhan lain selama ibu ada di rumah. Dengan begitu, anak tak merasa kehilangan sosok ibu. Toh, figur-figur lain di rumah mampu memberikan hal sama.
Saat kita harus meninggalkan anak untuk beraktivitas di kantor, anak dengan berbagai macam tingkah dan alasan gak mau lepas dari kita. Awal-awal emang pengen rasanya ikut nangis karena gak tega ninggalin anak dalam keadaan kayak gitu, tapi kalo gak ditega-tegain ya gimana dong dengan kerjaan kita?
Hmmm..keadaan yang dilematis ya bunda? Tapi jangan kuatir ya bunda, keadaan itu bisa kok diperbaiki. Bersumber dari Tabloid Nakita, berikut saya rangkumkan buat para bunda semua…^_^
1. Beri tahu sejujurnya
Perhatikan deh bunda, betapa si kecil kini sudah mulai bisa memahami apa yang kita sampaikan. Jadi, katakan aja dengan jujur bahwa bunda harus berangkat kerja. Agar si kecil gak harap-harap cemas, sampaikan juga bahwa di sore hari bunda sudah akan berada di rumah lagi dan kembali bermain dengannya.
2. Lakukan ritual positif
Ritual positif di pagi hari bisa bunda lakukan sebelum berangkat dengan meluangkan waktu sekitar 10-15 menit sudah cukup, untuk bermain-main dengan anak, entah membacakan buku, bercerita, atau hal lain yang menyenangkan. Dengan demikian, anak bisa bersenang-senang dulu dengan orang yang disayanginya.
3. Buat aktivitas
Selanjutnya mintalah pada pengasuh si kecil agar melanjutkan aktivitas menyenangkan tadi atau bisa juga membuat sebuah aktivitas lain yang tak kalah menyenangkan. Memang, itu tak membuat anak segera berhenti menangis, tapi setidaknya setelah itu, fokusnya akan teralihkan dan kembali tenang.
4. Berpamitan
Jangan lupa untuk berpamitan. Lambaikan tangan kepada si kecil. Sebaliknya, ajari si kecil untuk melambaikan tangannya kepada Anda. Ucapkan kata-kata perpisahan. Ulangi hal itu setiap hari. Anak juga bisa diajak mengantarkan orangtua hingga ke garasi atau pintu rumah.
5. Ajak bermain di luar
Jika anak masih menangis, pergi bersama keluar rumah bisa menjadi solusi. Bunda, pengasuh dan si kecil bisa berangkat bersama. Setelah itu, si kecil bisa bermain di lapangan, taman, atau tempat bermain di sekitar rumah. Cara ini cukup efektif meredakan kerewelan anak.
6. Monitor perilaku pengasuh
Semua cara sudah dilakukan, tapi si kecil tetap tak mau ibunya lepas. Jika ini terjadi, mungkin ulah buruk pengasuh yang jadi penyebab. Boleh jadi, anak tak mau ditinggal karena merasa tidak aman akibat sering dimarahi, dikekang aktivitasnya karena overprotektif, atau si pengasuh bukan orang yang asyik untuk menemani bermain.
7. Ajarkan sosialisasi
Agar anak rela berpisah sementara dengan ibu, sejak awal sebaiknya berikan kesempatan mengasuh anak kepada ayah, orang di rumah, atau nenek dan kakek yang dapat menjadi figur terdekat si kecil. Ayah, banyaklah terlibat dalam pengasuhan anak. Lewat cara itu, anak menganggap lingkungannya sangat aman dan menyenangkan.
8. Penuhi kebutuhan anak
Penuhi selalu kebutuhan anak dengan tepat. Tidak kurang, tidak lebih tetapi proporsional. Lakukan permainan yang menyenangkan bersamanya, makan, berisitirahat, berdoa, serta kebutuhan-kebutuhan lain selama ibu ada di rumah. Dengan begitu, anak tak merasa kehilangan sosok ibu. Toh, figur-figur lain di rumah mampu memberikan hal sama.
Komentar
Posting Komentar